Muamalah

Ayo Jualan !

Ayo Jualan ! Jemput rizki yang telah tergantung di langit. BDS (19/09) - Alhamdulillah... 3 hari ini bisa menyiapkan sendiri bekal  makan siang sekolah untuk ketiga anak – anak saya. Bisa menyiapkan bekal makan siang bagi saya yang tak begitu pandai memasak apalagi hobi, adalah sesatu. Berangkat dari sebuah niat untuk selalu berusaha memberikan makanan yang lebih baik untuk buah hati.  Meski sebenarnya merepotkan tapi cukup membanggakan. Hmmm ...jurus mengapresiasi diri sendiri.
 Sepulang sekolah selalu kroscek ulang apakah bekalnya dimakan dan dihabiskan.  Mereka bertigapun  berebut   saling melapor. Seperti biasanya , kakaklah yang selalu memberikan laporan  menyenangkan .He..eh..
 “ Ummi, tadi keripik jamurnya habis ! “ , seru sang kakak
 “ Bagus ,dong”.  Jawabku sambil beres – beres di meja dapur. “  Bekal yang sudah dimasak  ummi  harus dihabiskan  semua, ya.”
 “Temanku padha minta , Mi.Jadi habis tak bagikan “
Si kembar , Hammaad  menambahkan , “aku ya iyaa,...tak bagi – bagi ke temenku “
Si kembar , Hammam   hanya menyimak sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Memikirkan sesuatu.
Saya pun menjawab ,  “ Ya gapapaberbagi ke teman itu baik” .
Dengan penuh semangat saya melanjutkan pembicaraan. “ Berarti temanmu suka keripik jamur dong . Oooh, gini aja ummi buatkan keripik jamur lagi yang agak  banyak. Tapi sebagian dijual , ya ? “
Mereka bertiga saling melirik dan memikirkan sesuatu. Bingung mau menjawab apa..
 “ Ummi, jualan itu berat lho , Mi ! “, komentar sang kakak kembali.
 Welah, komentar yang tak terduga dari anak  yang baru genap berumur 9 tahun pada bulan november  tahun ini. Nah, kalau sudah begini   mulailah saya memasukkan prinsip - prinsip hidup..ciee.
 “ Berat gimana ?   Eh, tapi jualan itu pintu rizki, Dik. Allah akan memberikan rizkinya untuk kita kalau  berjualan. “ .
 Anak pertama saya ini  memang sejak kelas 1 sudah berlatih jualan. Mulai dari vitamin anak yang diecer sampe jualan parfum. Meski jualannya belum betul dan belum menghasilkan   , tapi saya senang karena dia sudah mau menempuh proses berjualan.   Makanya dia bisa berkomentar kalau jualan itu memang sebenarnya ga mudah. Tiba tiba adik si kembar,  Hammad yang secara karakter  memang sangat derma  ke teman – temannya  nyeletuk, “  Ga usah dijual , Mi. Keripiknya di bagi – bagi saja “.
Haiyach, sayapun tersenyum.   Saya tahu itu  jawaban bijaksana sebagai  strategi  halus untuk menolak berjualan.  “ Iya, kadang kita bagi – bagi ke teman. Tapi sebagian juga harus dijual “
“Ga papa , Mi. Aku mau jualan, tapi uangnya untuk aku semua, he..he” , sambil menunjukkan jari ke dadanya si kakak  ngeloyor pergi ke kamar.  
“ Boleh. Tapi, ummi juga dikasih sebagian ya. Misal, nanti dapat  sepuluh ribu, yang lima ribu dikasihkan  ummi. Yang lima ribu dibagi buat kalian bertiga. Gimana? “
 “ lha, kalau uangnya buat kalian semua , ummi beli jamur lagi pakai apa? Belum nanti untuk beli  minyak goreng, tepung , telur... “. Saya yakin semua yang saya katakan tak sepenuhnya dapat mereka pahami dengan baik. Tapi saya yakin seiring berjalan waktu mereka akan paham.
Saat kelas satu , kakak belum bisa paham apa makna “ untung dan rugi”. Tapi dia tetap jualan dengan cara anak kelas 1 SD. Di kelas tiga dia sudah menjual lebih baik dan dia mulai mengerti  kalau jualan yang betul itu uang dia harus bertambah banyak.  Akhirnya dia menemukan sendiri apa arti “untung”.
Oke!!. Lha, tapi siap ga kembar jualan ?”, melirik ke kedua adiknya.
siiip!”, sambil kulirik si kembar yang masih nampak kebingungan menerjemahkan apa yang dikatakan  kakaknya.
Seorang pentolan HIPMI ( Himpinan pengusaha Muda Indonesia) Erwin Aksa mengatakan bahwa  ,idealnya untuk menjadi sebuah negara industri maju memiliki 12 % pengusaha dari total populasi penduduknya. Jepang, Singapura, Amerika, Korea, bahkan sekarang China dan Malaysia memiliki pengusaha 5-15 persen atas populasi penduduk. Sedangkan di negara kita ada yang bilang 400 ribu pengusaha . Jumlah itu tidak ada 1 % dari  jumlah penduduknya.
Wah, kebayang nggak  negaranya kayakapa. Negara kecuali cina yang penduduknya lebih sedikit dari kita saja jumlah pengusahanya  5 sampe 15  kali dibanding jumlah pengusaha dinegara kita.  Yang  ada di kepala saya sih tiap rumah adalah  ruko. Lihat saja cina, sampai penduduk yang merantau dan menjadi pendatang di sebuah negarapun rata – rata hampir semua jadi  pedagang atau pengusaha. Bahkan mendominasi penduduk asli negara tersebut.  Seolah olah mereka lahir sudah membawa misi jualan. Bukan, maaf..., seperti kita ini, bayi yang lahir sudah terkena beban bayar hutang negara.
Kita bandingkan jumlah pengusaha di Indonesia yang jumlahnya kurang dari 1 persen. Sekarang saja sudah bisa kita lihat hampir tiap – tiap rumah dipinggir jalan berubah jadi toko kelontong. Di beberapa perkampungan yang sedang tumbuh hampir – hampir jadi rumah produksi aneka macam produk. Mulai konveksi, snack , bakery dan lain- lain. Belum lagi kalau kita punya akun online baik itu Facebook, twitter , whatsap atau BB. Banyak sekali penawaran aneka produk yang ditawarkan mencari peminatnya . Ini adalah fenomena yang sebenarnya cukup menarik dan baik.
Pertanyaannya siapa yang mau membeli ?  Hebatnya dan anehnya mereka masing – masing laku dan punya segmen pembeli masing – masing. Rizki kita sudah ada jatahnya . Dia tergantung diatas langit menunggu kita untuk mengambilnya.
Yang sudah menemukan cara mengambilnya mereka bisa merasakan.  Subhanallah, rizki tak ada habisnya. Semakin bertambah dan bertambah. Tapi yang belum menemukan jalannya, rizki itu seakan jauuuh tak teraih.
Jualan adalah salah satu jalan mengambil rizki yang tergantung tersebut.  Jangan khawatir tidak laku karena tiap tiap produk ada jodohnya. Dan jangan merasa jika diantara kita semua jadi pedagang produk kita tidak akan ada yang membeli. Manusia adalah mahkluk sosial yang saling membutuhkan. Jadikanlah sesama pedagang itu adalah patner kerjasama yang saling menguntungkan dan membutuhkan .
 Pedagang baju mereka tetap butuh obat. Pedagang obat membutuhkan baju. Pedagang baju dan obat membutuhkan pedagang handphone. Pedagang baju , obat  dan handphone membutuhkan makanan yang baik dan nutrisi sehat. Produsen membutuhkan pasukan reseller, reseller menemukan para konsumen. Konsumen membutuhkan inovasi dari produsen produsen yang kreatif. Sinergi saling membutuhkan dan menguntungkan dan roda ekonomi akan berputar.
Masih menunggu berapa lama? Segera bangun dan bergerak .  Semua orang bisa menjual dan apapun bisa dijual. Media jualan makin menarik dan target pasarpun masih sangat luas.  “ ayo , jualan ! “  untuk menjemput rizki kita yang sudah tergantung  dan disediakan di langit dan di bumi .
By Dyah Andari ( spirit dari Training Menulis Muslimah, Ayo, nulis )


.





Asuransi Terbaik. BDS (20/05) - Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.

Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.
Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.

Lihatlah kisah berikut ini:
Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000  pasukan penunggang kuda.
Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.

Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.

Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.
Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.

Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,
Ayat yang pertama,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)

Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.
Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,
“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,

“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”
Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,

“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam

Ayat yang kedua,
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)
Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.

Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.
Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”
Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”
Mereka pun mendudukkannya.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu
tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah. Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.

Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.
Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:

Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.
Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.
Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.

Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah. Semoga Bermanfaat
Ditulis oleh Budi Ashari


Bagaimana Menjadi Event Organizer (EO) yang Handal... bag 2. BDS (26/03) 
4.  Mampu Berempati
Empati merupaka suatu sikap  seakan akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.  Kemampuan untuk bisa merasakan inilah yang mampu mempertajam insting seorang EO untuk bisa memberikan pelayanan yang memuaskan. Karena pada prinsipnya seorang EO harus melayani seakan akan melayani dirinya sendiri.
Seorang EO professional harus memiliki  rasa empati terhadap semua orang yang hadir di suatu acara baik kepada tamu undangan utama sampai yang sekecil-kecilnya misalnya sopir kendaraan yang mungkin berada jauh dari tempat acara. Hal itu sangat berpengaruh terhadap kepuasan terhadap pihak yang dilayani. Tentunya ini pula akan mempengaruhi keberlangsungan suatu EO. Prinsip kerja jasa EO adalah memberikan pelayanan terhadap orang lain. Tanpa berempati, pelayanan yang diberikan tak akan menyentuh kebutuhan menyeluruh dari sebuah event.

5.  Mempu Bergerak Cepat dalam Mengambil Keputusan.
Seorang yang tidak percaya diri, ragu-ragu dengan tindakan dan keputusannya justru akan menghambat kelancaran kegiatan yang diselenggarakan EO. Meski terkadang sudah dipersiapkan dengan matang , tapi kadang masih juga terjadi sesuatu yang diluar perkiraan. Pemahaman suatu masalah secara cepat ,tepat dan mampu mencari solusi yang terbaik dengan cepat merupakan bagian skill yang harus dikuasai.  Karena jika seseorang tidak segera mengambil keputusan dan merasa takut mengambil keputusan maka kemungkinan besar justru kegagalan suatu acara bisa terjadi. Tentunya semua keputusan harus dipikirkan secara matang-matang, bukan dengan ceroboh. Seseorang harus bisa  memperhitungkan efek positif dan negative suatu keputusan. Planning-planning darurat harus selalu dipersiapkan untuk mengantisipasi keadaan di luar perhitungan.

6.   Mempunyai ide-ide kreatif
Dalam suatu EO ide-ide kreatif dan berkembang akan menjadi suatu sumber referensi yang segar. Dengan banyaknya rangkaian acara dalam suatu kegiatan maka ide-ide kreatif sangat diperlukan untuk membuat suatu pelaksanaan acara bisa lebih efektif dan efisien. Dengan menerapkan ini maka penghematan baik waktu, biaya, tenaga dan lain-lain bisa didapatkan. Tetapi tidak sampai mengurangi kualitas keberhasilan suatu acara.
Apalagi kalau melihat persaingan dalam bisnis EO maka ide kreatif menjadi suatu nafas gerakan EO yang tidak bisa ditinggalkan. Persaingan-persaingan akan memacu mereke terus-menerus untuk menggali ide kreatif. Apalagi banyak tuntutan dari para konsumen atau pihak yang dilayani ingin mendapatkan service service terbaru yang beda dengan yang lain dan lebih baik. Kepuasan dari si pengguna jasa akan mempengaruhi keberlangsungan EO di masa depan.

Demikianlah beberapa karakter yang harus dimiliki seorang EO. Tidak ada karekter EO yang langsung bisa dimiliki. Tapi dengan ikhtiar yang keras serta terus menerus berlatih dan memperbaiki skill, maka insha Allah karakter seorang EO bisa dimiliki. Amin.

Ditulis Dwi Anton.BC




Bagaimana Menjadi Event Organizer (EO) yang Handal... bag 1. BDS (15/03) - EO pada saat ini menjadi suatu kebutuhan yang semakin banyak dicari. Di era sekarang dengan banyaknya bermunculan suatu lembaga, organisasi, komonitas, badan usaha dan lain-lain sangat membutuhkan suatu menejer pelaksanaan yang profesional dari suatu kegiatan.

Ditambah lagi dengan semakin banyak pula seseorang yang ingin praktis dalam melakukan suatu “hajatan”. Dari mulai pesta pernikahan, seminar,reunian, sampai kepada sunatan masal, kajian-kajian keagamaan/bedah buku dan kegiatan missal lainnya. Sehingga mereka sangat membutuhkan suatu tim yang solid, terlatih dan sudah menguasai teknik pelaksanaan kegiatan tersebut.
EO merupakan profesi yang berhubungan dengan massa dan khalayak ramai maka diperlukan karakter khusus yang menunjang. Tentunya karakter ini harus dipelajari dan dijadikan kebiasaan sehingga akan memberikan hasil yang memuaskan ketika menjadi EO suatu acara. Beberapa karakter yang harus dimiliki diantaranya adalah sebagai berikut ;
1. Mampu mengorganisasi dan mengkoordinasi.
Suatu acara tentunya terdiri dari renteten kegiatan demi kegiatan yang saling terkait, berkesinambungan bahkan bisa kadang bersamaan waktu pelaksanaanya. Seorang EO harus benar - benar  tahu secara terperinci bagian demi bagian dari acara tersebut. Tahapan kegiatan, urut –urutan waktu kegiatan, pembagian tugas anggota tim, alat –alat yang harus digunakan dan lain-lain secara detail harus dikuasai seorang EO. Kemudian mampu untuk menjalankan secara baik, lancar bahkan sudah menjadi gerakan reflek. Tentunya hal ini tidak akan terjadi secara instan begitu saja tapi bisa melalui dipelajari dan dilatih secara terus-menerus. Dengan persiapan yang matang insha Allah acara bisa dilaksanakan dengan lancar dan bisa meminimalkan kesalahan. Tidak ada manusia yang terlepas dari salah, sehingga jika kesalahan-kesalahan terjadi bisa dijadikan ibrah/pelajaran sehingga mampu untuk memperbaikinya.

2. Mampu Bekerja sama
EO merupakan  sekumpulan orang professional yang tergabung dalam suatu Tim Work. Tentunya antara satu orang dengan orang yang lain sangat berkaitan tugasnya dan saling mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan suatu acara. Kelancaran suatu kegiatan akan mempengaruhi kegiatan yang lain. Sehingga sikap saling kerjasama, saling memahami ,saling pengertian akan membuat suasana pelaksanaan kegiatan terasa nyaman. Termasuk juga ketika seseorang anggota EO mengalami halangan/kesulitan maka yang lainnya mampu untuk membantu bahkan memback up tugasnya. Hal ini juga akan berlaku untuk antar tim work dalam suatu EO jika itu suatu EO yang besar. Bisa dibayangkan jika dalam tim EO tidak mampu bekerjasama, maka suasana menjadi tidak nyaman dan tidak kondusif, masing-masing berkerja dengan saling curiga dan tidak saling percaya dan tidak bisa bersinergi. Sehingga akhirnya akan jadi amburadurlah acara yang diselenggarakan. 

3. Bijaksana
EO tidak hanya butuh kerjasama, namun sikap bijaksana harus selalu ditekankan. Potensi konflik bisa saja terjadi karena ketidaktahuan, ketidak sepahaman, miskomunikasi dan sebab lainnya. Tentunya di sini memerlukan sikap yang “bijaksana” dalam menyelesaikan konflik ini. Berfikir dengan kepala dingin harus selalu diutamakan dalam menyelesaikan konflik tersebut. Berbagai macam faktor yang mempengaruhi konflik harus bisa menjadi perhatian dan pertimbangan. Sehingga keputusan penyelesaian bisa diambil secara baik dan terutama  bisa memuaskan semua pihak. Paling tidak bisa diterima dari pihak-pihak yang berkonflik.
Konflik tidak hanya bisa terjadi antar anggota tim EO, tetapi juga bisa antar tim work dalam suatu EO bahkan juga bisa terjadi dengan pihak yang dilayani EO. Tentunya pengalaman dan jam terbang dalam suatu EO akan sangat membantu menyelesaikan suatu masalah secara bijaksana sehingga mampu berakhir dengan baik....bersambung.

Ditulis Dwi Anton.BC


Pengaruh Dakwah lewat Sebuah Tulisan. BDS (28/02) -  Dalam tayangan Kick Andy pernah ditayangkan seorang laki-laki yang bisu dan tidak tampan melamar seorang akhwat cantik dan diterima. Ketika ditanya mengapa akhwat ini mau menerima suaminya itu.
Ia menjawab, “Saya membaca buku mbak Asma Nadia Serial Aisyah Putri.Buku ini mengubah cara pandang saya, sejak membaca buku itu saya mematok kriteria calon suami bukan fisiknya tapi keshalehannya.”
Subhanallah, beginilah hasil dakwah melalui cerita. Ada juga rumah tangga yang hampir bercerai tidak jadi bercerai setelah membaca buku Asma Nadia, Sakinah bersamamu, catatan hati seorang istri dan catatan hati yang cemburu.
Ada juga yang frustasi dan hamper bunuh diri. Ia sudah memacu motornya sekencan-kencangnya berharap untuk tabrakan. Entah kenapa tiba-tiba dia berhenti di depan sebuah toko buku.
Dia berhenti lalu membaca buku Catatan Hati di Setiap Doaku dari Asma Nadia. Mulai terbit secercah harapan. Iapun memutuskan tidak jadi bunuh diri lalu mengirim e-mail kepada Mbak Asma Nadia menceritakan kejadian ini.
Subhanallah. Tahun 2010 juga ada yang mengirim inbox ke saya. Dia berkata, “Mas Agung anak saya langganan ikutan lomba dan langganan kalah. Dia sering membaca kiriman tulisan dari Komunitas Bisa! (Grup Motivasi-pen), ketika hampir putus asa dia membaca tulisan mas Agung yang judulnya, ;Gagal: Bisa jadi Anda akan Mensyukurinya beberapa tahun mendatang’ akhirnya semangatnya bangkit lagi.
“Dia lalu mengikuti Lomba menulis essay. Sekarang Alhamdulillah anak saya berada di Jepang selama 6 bulan sebagai hadiah lomba itu. Terima kasih Mas Agung. Terus menulis ya, untuk memotivasi teman-teman!”
Subhanallah. Beginilah dakwah melalui tulisan. bisa sangat berpengaruh. Apalagi kalau tulisan ini sudah difilm-kan atau disinetronkan akan berdampak lebih luas karena di Indonesia minat menonton masih jauh lebih tinggi daripada minat baca. So, apalagi yang Anda tunggu? Mulailah menulis sejak sekarang!
Oleh: Agung Pribadi (penulis buku Gara Gara Indonesia)