Latest Post

Semaraknya Training Dai Ramadhan Tanon 31 Mei 2015. BDS (13/06) - Alhamdulilah akhirnya pelaksanaan Training Dai Ramadhan  telah terlaksana. Acara berlangsung pada tanggal 31 Mei 2015. Meski sempat mau bertabrakaan dengan acara "mantennan" yang berada dekat lokasi akhirnya acara ngantenannya tidak jadi (mungkin karena merasa tidak enak). Acara TDR ini diselenggarakan atas inisiasi BDS balai Dakwah Sragen terutama sebagai EO utamanya. Bekerjasama dengan Takmir Masjid Gabugan, Badko Tanon, dan menggandeng juga KUA Tanon.


Kata Sambutan dilakukan oleh PJ kepala Desa Gabugan yang memberikan apresiasi terhadap acara ini dan mengharapkan bisa dilakukan secara periodik setiap tahun. sambutan kedua Ketua takmir Masjid Attaqwa yang berharap nanti hasil pelatiahan ini bisa diterpkan terutama pada kultum ramadhan di waktu dekat ini khususnya. Dan kedepannya untuk dakwah secara lebih luas. Sementara rencana sambutan yang ketiga dari ketua BDS urung dilakukan, karena MC nya ternyata lupa sehingga terlewatkan.  
Training Dai ini mengahadirkan pembicara yang cukup kompeten di bidangnya. Bapak Ustadz Dr. Nursalim mengisi tentang Fiqh Dakwah. Materi yang cukup ditekankan mengenai  pentingnya penggunaan teknologi dalam mempercepat perkembangan dakwah. Berbagai macam kemajuan teknologi juga harus bisa memanfaatkan untuk membuat bahan untuk dakwah dengan lebih cepat, namun tetap mempertahankan esensinya.
Semetara Ustadz Taufiqurrahman memberikan materi menejemen dakwah. Petualang dai dari Masaran Ini juga memberikan motivasi bagaimana dakwah yang diemban selalu akan menemui tantangan. Namun tantangan ini justru harus membuat untuk selalu meningkatkan kemampuan dai sehingga bisa mengantisipasi. Sehingga menejemen dakwah menjadi hal yang senantiasa harua terus diterapkan demi mendapatkan hasil yang bisa maksimal.

Sebagai pemateri terakhir adalah Ust. Abdurrahman Annajah dai kondang di Gemolong Raya. Kepala SMP Al Qolam ini membawakan materi yang cukup membuat suasana agak meriah. Dengan menampilkan beberapa video diskripsi dengan suara-suara yang keras, cukup menghalangi peserta training dari rasa kantuk di siang hari. Materi retorika, penguasaan panggung dan berbagai macam teknik tampil di depan mimbar membuat peserta menjadi lebih serius mendengarkannya. Karena inilah masalah yang banyak ditemukan para peserta ketika naik mimbar. Dengan diakhiri simulasi dan doorprise menambah semarak suasana training.

Sekitar jam 14.30 acara selesasai. Peserta yang hadir berjumlah 60 an dan buku kultum ramadhan sebagai salah satu materi terjual 70 an. Mudah mudahan acara ini bisa diselenggarakan periodik sesuai pesannya perangkat desa gabugan . Amin
Aksi Solidaritas Muslim Solo Untuk Rohingya. BDS (22/05) - Ratusan orang menggelar aksi damai di Vihara Maitreya Muni di Kepunton Jebres Solo, Jumat 22 Mei 2015 siang ini , aksi ini dimulai setelah melakukan jamaah sholat jum’at, mereka memberikan dukungan adanya perdamaian bagi suku Rohingya di Myanmar.

Pengunjuk rasa tersebut melakukan orasi yang intinya memberikan dukungan aksi perdamaian bagi suku Rohingya, dan sebagai wujud solidaritas terhadap saudara muslim rohingnya yang merupakan warga muslim yang se akidah.

Menurut koordinator aksi , orasi di depan Vihara Maitreya Muni di Kepunton Jebres Solo ini adalah untuk memberikan preasure terhadap para penganut agama budha di Solo pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Dalam aksi damai ini banyak dibentagkan spanduk dan tulisn yang berisi pesan untuk menghentikan kekerasan terhadap suku etnis Rohingya baik di Myanmar maupun di Bangladesh yang dilakukan oleh para biksu agama Budha yang merupakan mayoritas didaerah tersebut.

Setelah berorasi didepan Vihara Maitreya Muni di Kepunton Jebres Solo mereka tidak langsung membubarkan diri, melainkan mereka langsung menuju ke Vihara di Pucangsawit solo untuk menggelar aksi yang sama di Vihara tersebut.
Asuransi Terbaik. BDS (20/05) - Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.

Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.
Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.

Lihatlah kisah berikut ini:
Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000  pasukan penunggang kuda.
Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.

Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.

Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.
Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.

Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,
Ayat yang pertama,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)

Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.
Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,
“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,

“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”
Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,

“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam

Ayat yang kedua,
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)
Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.

Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.
Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”
Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”
Mereka pun mendudukkannya.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu
tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah. Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.

Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.
Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:

Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.
Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.
Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.

Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah. Semoga Bermanfaat
Ditulis oleh Budi Ashari


INFO EVENT PEKAN INI 



Hadiri Kajian Keluarga setiap Ahad ke 4 
Di Sekretariat Balai Dakwah Sragen Komplek Masjid Al-Ikhlas
Gemolong Sragen 
Hari Ahad, 24 Mei 2015 
Pembicara Ust. Suyatno (Pakar Ruqyah Syar'iyah dari Sragen)
Jam 13.00 WIB.  

Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam besabda “perlihatkan pada ku Ruqyah kalian, dan tidak apa-apa melakukan ruqyah selama tidak mengandung unsur syirik (HR. Muslim)
Mengapa Pendidikan Itu Penting. BDS (17/05) - Islam, agama yang sempurna, sangat memperhatikan pertumbuhan generasi. Untuk itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kita agar memilih istri shalihah, penuh kasih sayang dan banyak keturunannya. Dari istri-istri yang shalihah ini, diharapkan terlahir anak-anak yang shalih-shalihah, kokoh dalam beragama. Sehingga Islam menjadi kuat dan musuh merasa gentar. Demikianlah, ibu memiliki peran yang dominan dalam membangun pondasi dan mencetak generasi, karena dialah yang akan mendidik anak-anak dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. 




Perhatian Islam lainnya yang terkait dan ikut berpengaruh dengan pendidikan anak, yaitu Rasulullah menganjurkan agar orang tua memberi nama yang baik terhadap anak-anaknya. Suatu nama akan turut memberi pengaruh pada anak. Sehingga banyak riwayat yang menjelaskan Rasululah merubah beberapa nama yang tidak sesuai dengan Islam. 



Ketegasan Islam dalam mendidik ini, juga bisa dikaji dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa ketika anak menginjak usia tujuh tahun, hendaklah kedua orang tua mengajarkan dan memerintahkan anak-anaknya untuk melakukan shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :



مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ 

Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah jika enggan melakukan shalat bila telah berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka. [HR Abu Dawud, dan dishahîhkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abi Dawud, no. 466] 

Perintah mengajarkan shalat, berarti juga mencakup hal-hal berkaitan dengan shalat. Misalnya, tata cara shalat, thaharah, dan kewajiban shalat berjama'ah di masjid, sehingga anak bisa lebih dekat dan akrab dengan kaum Muslimin. 

Adapun pukulan pada anak, Islam memperbolehkan para orang tua untuk memukul, jika anak malas dan enggan melakukan sholat. Tetapi hendaklah diperhatikan, pukulah tersebut dalam batas-batas tarbiyah (pendidikan), dengan syarat bukan pukulan yang membahayakan, dan bukan pula pukulan mainan, sehingga tidak ada pengaruh apapun. Di antara tujuannya, supaya anak merasakan hukuman bila ia melakukan kemaksiatan meninggalkan shalat. 

Namun kita lihat pada masa ini, pukulan, sebagai salah satu wasilah dalam tarbiyyah, banyak ditinggalkan para orang tua. Dalih yang disampaikan, karena rasa sayang kepada anak. Padahal rasa sayang yang sebenarnya harus diwujudkan dengan diberi pendidikan. Dan salah satunya dengan dipukul saat anak melakukan perbuatan maksiat. 

Rasulullah juga memerintahkan para orang tua supaya memisahkan tempat tidur anak-anak yang telah memasuki usia sepuluh tahun. Maksud pemisahan ini, ialah untuk menghindari fitnah syahwat. 

Oleh karena itu, jika orang tua orang tua bertanggung jawab terhadap anak-anaknya saat mereka tidur, lalu bagaimana saat mereka keluar dari rumah dan bergaul dengan masyarakat? Maka tentu orang tua memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi. Orang tua harus senantiasa mengawasi anak-anaknya, menjauhkannya dari teman dan pergaulan yang buruk lagi menyesatkan. Karena tarbiyah tidak hanya ketika berada rumah saja, namun juga ketika anak-anak berada di luar rumah. Sebagai orang tua harus mengetahui tempat dan dengan siapa anak-anaknya bergaul. Ingatlah, orang tua adalah pemimpin, ia akan diminta tanggung jawabnya. 

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang yang kalian pimpin. [Muttafaqun 'alaih].

Kebaikan anak menjadi penyebab kebaikan, khususnya bagi orang tua dan keluarganya, dan secara umum untuk kaum Muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 

Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya [HR at-Tirmidzi].

Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan seorang anak dengan kebaikan dan ketaatannya, memiliki manfaat dan pengaruh yang besar bagi para orang tua baik, ketika masih hidup maupun sesudah meninggal dunia. Ketika orang tua masih hidup, sang anak akan menjadi hiburan, kebahagiaan dan qurrata-a'yun (penyejuk hati). Dan ketika orang tua sudah meninggal dunia, maka anak-anak yang shalih senantiasa akan mendoakan, beristighfar dan bersadaqah untuk orang tua mereka. 
Sebaliknya, betapa malang orang tua yang anaknya tidak shalih dan ia durhaka. Anak yang durhaka tidak bisa memberi manfaat kepada orang tuanya, baik ketika masih hidup maupun saat sudah meninggal. Orang tua tidak akan bisa memetik buahnya, kecuali hanya kerugian dan keburukan. Keadaan seperti ini bisa terjadi jika para orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan atau tarbiyyah anak-anaknya. 

Salah satu contoh dalam tarbiyah yang benar, yaitu hendaklah para orang tua bersikap adil terhadap semua anak-anaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita.

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ 

Maka bertakwalah kalian semua kepada Allah dan berbuatlah adil kepada anak-anakmu. [HR Imam al-Bukhâri]

Pernah terjadi, ketika salah seorang sahabat memberi kepada sebagian anak-anaknya, kemudian ia menghadap kepada Rasulullah supaya beliau n bersedia menjadi saksi. Maka beliau n bertanya: “Apakah semua anakmu engkau memberi yang seperti itu?”

Dia menjawab,"”Tidak,” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Carilah saksi selain diriku, karena aku tidak mau menjadi saksi dalam keburukan. Bukankah akan bisa membahagiakanmu, apabila engkau memberikan sesuatu yang sama?” 

Dia menjawab :”Ya,” maka kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :” Maka lakukanlah!”

Anehnya, ada sebagian orang tua, manakala dinasihati tentang tarbiyah anak, justru melakukan sanggahan. Orang tua ini mengatakan bahwa kebaikan ada di tangan Allah, atau hidayah terletak di tangan Allah. Memang benar hidayah berada di tangan Allah, sebagaiaman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. [al-Qashash/28:56]. 

Namun yang perlu diperhatikan, faktor yang menjadi penyebab adanya kebaikan dan hidayah, ialah karena peran orang tua. Apabila para orang tua telah berperan secara maksimal dan telah menunaikan kewajibannya dalam tarbiyah, maka hidayah berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sedangkan jika orang tua lalai dan mengabaikan tarbiyah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan balasan dengan kedurhakaan dan keburukan kepada anak. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi [HR Imam al-Bukhâri].

Disinilah kita harus memahami secara benar, betapa besar peran orang tua terhadap anak. Orang tua memiliki tanggung jawab membentuk keimanan dan karakter anak. Dari orang tua itulah akan terwujud sosok kepribadian seorang anak. 

Akhirnya, marilah kita menjaga fitrah anak-anak kita. Yaitu fitrah di atas kebenaran dan kebaikan. Karena semua yang kita lakukan atas diri anak, akan diminta pertanggungjawabnya di hadapan Allah Azza wa Jalla . 

Perhatian terhadap anak merupakan perkara yang teramat penting dan pertanggungjawaban yang besar di hadapan Allah. Oleh karena itu, para manusia terbaik, yaitu para nabi senantiasa mendoakan kebaikan untuk diri dan anak keturunan mereka. 

Nabi Ibrahim Alaihissallam berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. [ash-Shafât/37:100]

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan (jadikanlah) di antara anak-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [al-Baqarah/2:128

Nabi Zakariya Alaihissallam berdoa:

قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakariya mendoa kepada Rabbnya seraya berkata, "Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". ['Ali 'Imran/3:38]. 

Begitu juga dengan para salaf pendahulu kita, mereka berdoa: 

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [al-Furqân/25:74].

Demikianlah para nabi, meskipun memiliki kedudukan dan dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala , mereka tetap saja senantiasa berdoa penuh harap, memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar dianugerahi keturunan yang shalih dan shalihah, maka bagaimana dengan kita? Tentunya, kita tergerak dan lebih bersemangat melakukannya.

Oleh karena itu, marilah kita berdoa dan selalu berusaha memberikan pendidikan dan tarbiyah kepada anak-anak kita dengan berlandaskan din (agama) yang shahîh dan lurus.

Q.s Al Ahqof ayat 15 
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri".


Fauzan al-Fauzan, 
Mengingat Jasa Kartini Para Guru dan Siswa melakukan Sungkem. BDS (22/04) Ada pemandangan berbeda terlihat di halaman SMPN 2 Sragen, Selasa (21/4/2015) pagi. Tak seperti biasanya, hampir semua siswa di SMP yang berada di sebelah timur Kantor Bupati Sragen tersebut, pagi itu terlihat sumringah dengan dandanan kebaya dan beskap lengkap dengan aksesoris ala kejawen.
Tak hanya siswa, semua guru dan karyawan juga menyesuaikan dengan mengenakan busana yang sama. Tak lama berselang, mereka kemudian mengikuti apel bersama memeringati Hari Kartini di halaman sekolah dengan menghadap foto Raden Ajeng Kartini berkalung bunga yang sudah terpampang di depan.
Diawali dari kepala sekolah dan guru, ratusan siswa itu kemudian satu persatu berbaris untuk melakukan sungkem dan sujud di depan foto sebagai tanda penghormatan.
“Ayo satu-satu bergiliran. Beri penghormatan untuk pahlawan emansipasi kita Ibu RA Kartini,” ujar Kasek SMPN 2 Sragen, Natalina DM kepada siswa.
Suasana hening dan khidmat mengiringi jalannya sungkem yang dilakukan ratusan siswa itu. Bahkan, tak sedikit yang menitikkan air mata saking trenyuhnya. Pulihan wali murid juga tampak setia menyaksikan dari balik pagar sekolah. Natalina pun mengakui meski perayaan serupa hampir dihelat setiap tahun.
Jika ide sungkem dan penghormatan kepada RA Kartini itu memang baru dilakukan tahun ini. Meski terkesan sederhana, momen sungkem itu menurutnya bisa amat bermakna.
“Dengan penghormatan ini, setidaknya bisa membawa memori anak-anak dan guru untuk mengenang kembali jasa beliau (Kartini) yang sudah memperjuangkan emansipasi wanita. Sehingga anak-anak tidak lupa dengan jati diri mereka dengan tetap meneladani sifat beliau dan melanjutkan perjuangan beliau,” ucap Natalina.
Selain sungkem, peringatan kemarin juga dimeriahkan dengan serangkaian lomba diantaranya lomba keluwesan untuk memilih Mas dan Mbak SMPN 2 Sragen, lomba lagu keroncong serta lomba bertema lingkungan seperti lomba kebersihan kelas, melukis di tempat sampah, dan masak bagi bapak-bapak.
Selesai pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah, seluruh siswa dan guru kemudian berbaur makan nasi pincuk bungkus daun pisang secara bersama-sama di halaman sekolah.
“Selain mengakrabkan suasana antara guru dan siswa, makan nasi pincuk dengan bungkus daun pisang ini juga bagian dari upaya untuk melanjutkan semangat cinta lingkungan. Apalagi SMPN 2 Sragen ini sudah mendapat penghargaan Adiwiyata nasional 2014, dan harapannya ke depan bisa naik menjadi Adiwiyata Mandiri,” tandasnya.
Salah satu siswi kelas VIII, Deasy mengaku terharu dan sangat senang dengan berbagai kegiatan untuk peringatan Hari Kartini di sekolahnya.
Menurutnya dengan berbusana jawa dan menghormat foto Kartini, hal itu akan memberi motivasi bagi siswa untuk senantiasa meneladani sosok Kartini.
Red : "Itu adalah berita yang diambil dari Harian Joglo Semar Selasa 21/04/2015, bagaimanapun ritual seperti ini adalah cara untuk membunuh aqidah siswa, tidak heran mungkin yang dilakukan oleh kepala sekolah SMP N 2 Sragen yang notabennya adalah seorang Non Muslim (Kristen), tetapi dengan cara seperti ini adalah langkah yang keliru, kelau kita tengok kembali tentang sejarah Islam bagaimana mereka menyembah berhala-berhala mereka, semua dimulai dari menggambar para pendahulu-pendahulunya yang dianggap oraang yang Sholeh, tetapi lambat laun mereka terjebak di jurang kesyirikan dari hanya menggambar, kemudian memajang gambarnya disetiap rumahnya, kemudian akhirnya meminta berkah terhadap gambar-gambar itu dan menyembahnya.

Untuk mengkonfirmasi acara tersebut kami menghubungi salah satu guru Agama Islam di SMP N 2 Sragen melalui sambungan telepon , "memang sebelum acara Kepala Sekolah menginstruksikan kepada seluruh Guru, Karyawan dan siswa-siswinya untuk sungkem dan bersujud, tetapi secara individu memang ada beberapa guru yang tidak melakukannya termasuk saya (Bp. Mursidi –Guru PAI)"  
Cara Kirim File  tanpa  Internet dan Bluetooth. BDS (11/04) - Untuk kalian yang aktif sebagai pengguna smartphone (android khususnya), mengirim data seringkali jadi hambatan, Apalagi melihat kondisi jaringan internet di Indonesia yang kurang memadai atau sebelum kirim data harus paired Bluetooth teman terlebih dahulu. Kalaupun ada jaringan Internet, mengirim dokumen besar pun memakan banyak kuota. Repot dan Boros !



Selain menggunakan Bluetooth, hambatan para pengguna smartphone untuk kirim data seperti musik, video, atau foto ke teman biasanya terdapat pada jaringan internet. Kebetulan sekitar kita sedang tidak ada jaringan Wi-Fi, mau pakai data seluler untuk kirim foto juga sayang kuota. Jadi, apa ada alternatif lain untuk kirim data-data yang berukuran besar ? berikut ini saya posting tentang Cara kirim file dengan Smartphone tanpa menggunakan Internet maupun Bluetooth.

Untuk mengatasi masalah ini, kuncinya terdapat pada Zapya. Aplikasi ini sangat unik, Bayangkan saja, dalam skala 100 meter, tanpa internet atau jaringan WLAN, dengan kecepatan transfer 128 kali lipat dari Bluetooth, kirim segala jenis data dengan segala size tentu bukan lagi jadi masalah. Dan lagi, Zapya juga tersedia untuk PC. Kalian dapat mem-back-up data dan mengirim data tanpa harus menggunakan kabel USB. Praktis bukan? Selain itu, Zapya ada Bahasa Indonesia, loh! Jadi untuk Indonesian user, Zapya sangat praktis untuk kalian para smartphone’ers yang memiliki kualitas internet yang kurang baik. Aplikasi ini gratis dan dapat kalian download di Google Play